Dari semester I sampai VIII, kuliah hanya bermodal sepasang sepatu, namun akan tetap melangkah terus dan terus ...
Jumat, 09 Maret 2012
Rabu, 07 Maret 2012
Rejang dalam sebuah History
Suku
bangsa Rejang yang dewasa ini bertebaran tentunya mempunyai asal usul
mula jadinya, dari cerita secara turun temurun dan beberapa
karangan-karangan tertulis mengenai Rejang dapatlah dipastikan bahwa
asal usul suku bangsa Rejang adalah di Lebong yang sekarang dan ini
terbukti dari hal-hal berikut :
- John Marsden, Residen Inggris di Lais (1775-1779), memberikan keterangan tentang adanya empat Petulai Rejang, yaitu Joorcalang (Jurukalang), Beremanni (Bermani), Selopo (selupu) dan Toobye (Tubay).
- J.L.M Swaab, Kontrolir Belanda di Lais (1910-1915) mengatakan bahwa jika Lebong di angap sebagai tempat asal usul bangsa Rejang, maka Merigi harus berasal dari Lebong. Karena orang-orang merigi memang berasal dari wilayah Lebong, karena orang-orang Merigi di wilayah Rejang (Marga Merigi di Rejang) sebagai penghuni berasal dari Lebong, juga adanya larangan menari antara Bujang dan Gadis di waktu Kejai karena mereka berasal dari satu keturunan yaitu Petulai Tubei.
- Dr. J.W Van Royen dalam laporannya mengenai “Adat-Federatie in de Residentie’s Bengkoelen en Palembang” pada pasal bengsa Rejang mengatakan bahwa sebagai kesatuan Rejang yang paling murni, dimana marga-marga dapat dikatakan didiami hanya oleh orang-orang dari satu Bang dan harus diakui yaitu Rejang Lebong.
Pada
mulanya suku bangsa Rejang dalam kelompok-kelompok kecil hidup
mengembara di daerah Lebong yang luas, mereka hidup dari hasil-hasil
Hutan dan sungai, pada masa ini suku bangsa Rejang hidup Nomaden
(berpindah-pindah) dalam tatanan sejarah juga pada masa ini disebut
dengan Meduro Kelam (Jahiliyah), dimana masyarakatnya sangat
mengantungkan hidupnya dengan sumber daya alam dan lingkungan yang
tersedia.
Barulah
pada zaman Ajai mereka mulai hidup menetap terutama di Lembah-lembah di
sepanjang sungai Ketahun, pada zaman ini suku bangsa Rejang sudah
mengenai budi daya pertanian sederhadan serta pranata sosial dalam
mengatur proses ruang pemerintahan adat bagi warga komunitasnya.
Menurut riwayat yang tidak tertulis suku bangsa Rejang bersal dari Empat Petulai dan tiap-tiap Petulai di Pimpin oleh seorang Ajai. Ajai ini berasal dari Kata Majai yang mempunyai arti pemimpin suatu kumpulan manusia.
Dalam
zaman Ajai ini daerah Lebong yang sekarang masih bernama Renah Sekalawi
atau Pinang Belapis atau sering juga di sebut sebagai Kutai Belek Tebo.
Pada masa Ajai masyarakat yang bekumpul sudah mulai menetap dan
merupakan suatu masyarakat yang komunal didalam sisi sosial dan
kehidupannya sistem Pemerinatahan komunial ini di sebut dengan Kutai.
Keadaan ini ditunjukkan dengan adanya kesepakatan antara masyarakat
tersebut terhadap hak kepemilikan secara komunal. Semua ketentuan dan
praktek terhadap hak dan kepemilikan segala sesuatu yang menyangkut
kepentingan masyarakat dipimpin oleh seorang Ajai. Walaupun sebenarnya
dalam penerapan di masyarakat seorang Ajai dan masyarakat lainnya
kedudukannya tidak dibedakan atau dipisahkan berdasarkan ukuran derajad
atau strata.
Sungguhpun
demikian pentingnya kedudukan Ajai tersebut dan di hormati oleh
masyarakatnya, tetapi masih dianggap sebagai orang biasa dari
masyarakat yang diberi tugas memimpin, ke empat Ajai tersebut adalah:
- Ajai Bintang memimpin sekumpulan manusia yang menetap di Pelabai suatu tempat yang berada di Marga Suku IX Lebong
- Ajai Begelan Mato memimpin sekumpulan manusia yang menetap di Kutai Belek Tebo suatu tempat yang berada di Marga Suku VIII, Lebong
- Ajai Siang memimpin sekumpulan manusai yang menetap di Siang Lekat suatu tempat yang berada di Jurukalang yang sekarang.
- Ajai Malang memimpin sekumpulan manusia yang menetap di Bandar Agung/Atas Tebing yang termasuk kedalam wilayah Marga Suku IX sekarang.
Pada
masa pimpinan Ajai inilah datang ke Renah Sekalawi empat orang
Biku/Biksu masyarakat adat Rejang menyebutnya Bikau yaitu Bikau
Sepanjang Jiwo, Bikau Bembo, Bikau Pejenggo dan Bikau Bermano. Dari
beberapa pendapat menyatakan bahwa para Bikau ini berasal dari Kerajaan
Majapahit namun beberapa tokoh yang ada di Lebong berpendapat tidak
semua Bikau ini bersal dari Majapahit. Dari perjalan proses Bikau ini
merupakan utusan dari golongan paderi Budha untuk mengembangkan
pengaruh kebesaran Kerajaan Majapahit, dengan cara yang lebih elegan
dan dengan jalan yang lebih arif serta mementingkan kepedulian sosial
dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya lokal.
Melalui
strategi para utusan Menteri Kerajaan seharusnya tidak lagi berusaha
untuk menyebarkan kebudayaan serta bahasa Jawa. Oleh karena itu
golongan paderi Budha yang memiliki tindakan yang tenang dan ramah
tamah, dengan mudah dapat diterima dan masyarakat Rejang. Terbukti
bahwa keempat Biku tersebut bukanlah mempunyai maksud merampas harta
atau menerapkan upeti dan pajak terhadap Raja Majapahit, namun mereka
hanya memperkenalkan kerajaan Majapahit yang tersohor itu dengan raja
mudanya yang bernama Adityawarman. Sewaktu mereka sampai di Renah
Sekalawi keempat Biku tersebut karena arif dan bijaksana, sakti, serta
pengasih dan penyayang, maka mereka berempat tidak lama kemudian
dipilih oleh keempat kelompok masyarakat (Petulai) dengan persetujuan
penuh dari masyarakatnya sebagai pemimpin mereka masing-masing.
- Biku Sepanjang Jiwo menggantikan Ajai Bitang
- Biku Bembo menggantikan Ajai Siang
- Biku Bejenggo menggantikan Ajai Begelan Mato
- Biku Bermano menggantikan Ajai Malang
Setelah
dipimpin oleh empat Biku, Renah Sekalawi berkembang menjadi daerah yang
makmur dan mulai produktif pertaniannya sudah mulai bercocok tanam,
berkebun dan berladang. Sehingga pada saat itulah kebudayaan mereka
semakin jelas dan terkenal dengan adanya tulisan sendiri dengan abjad Ka-Ga-Nga (sampai sekarang masih lestari dan di klaim menjadi tulisan asli Bengkulu).
Setelah
keempat Biku terpilih untuk memimpin kelompok masyarakat mendapat
sebuah tantangan dalam bentuk bencana wabah penyakit yang menyerang
masyarakat. Bencana itu terjadi kira-kira akhir abad ke XIII, wabah
penyakit yang banyak merenggut jiwa masyarakat tanpa memandang umur dan
jenis kelamin. Menurut ramalan para ahli nujum setempat yang
menyebabkan datangnya musibah itu adalah seekor beruk putih yang
bernama Benuang Sakti dan berdiam di atas sebuah pohon yang besar di
tengah hutan.
Untuk
mencari jalan keluar atas bencana yang terjadi, keempat Biku itu
bersepakatlah untuk mencari pohon besar tersebut dan segera menebangnya
dengan sebuah harapan setelah ditebang dapat mengakhiri wabah yang
terjadi. Setelah membagi tugas masing-masing mereka berpencar ke segala
penjuru hutan dan akhirnya rombongan Biku Bermano sampai dan menemukan
pohon besar yang mereka cari, mereka kemudian segera untuk menebang
pohon besar itu, namun usaha mereka tidak berhasil menebang pohon
tersebut karena semakin ditebang oleh kapak, pohon tersebut semakin
bertambah besar, kejadian yang sama terjadi, setelah rombongan dari
Biku Sepanjang Jiwo sampai di tempat yang sama dan mencoba untuk
menebang pohon besar itu, disusul rombongan dari Biku Bejenggo tetapi
pohon itu pun tidak juga roboh. Pada saat itu munculah rombongan
terakhir yaitu Biku Bembo dan kepada mereka diceritakan kejadian aneh
yang mereka alami dalam menebang pohon besar yang tidak mau roboh
setelah ditebang bahkan pohon itu bertamah besar.
“Riwayat
saat bertemu rombongan pimpinan Biku Bembo bertemu dengan ketiga
rombongan di tempat ditemukannya pohon besar yang di atasnya ada beruk
putih bernama Benuang Sakti berada terlontarlah kata-kata dalam bahasa
Rejang: pro pah kumu telebong yang berarti di sini kiranya saudara-saudar berada. Sejak peristiwa itu Renah Sekalawi bertukar nama menjadi Lebong”.
Setelah
diceritakan kejadian yang terjadi kepada rombongan Biku Bembo, mereka
bermusyawarah untuk mengatasi masalah yang terjadi itu dan bersepakat
meminta petunjuk kepada Sang Hiang (Yang Maha Kuasa) supaya dapat
mencari cara bagaimana menebang pohon besar itu supaya dapat ditebang.
Cara yang dilakukan oleh keempat Biku itu adalah dengan betarak
(bertapa), setelah betarak dilakukan mereka mendapat petunjuk pohon itu
dapat ditebang kalau dibawahnya digalang/ditopang oleh tujuh orang
gadis muda/remaja.
Setelah
itu mereka bergegas menyiapkan segala sesuatu petunjuk yang didapat
oleh Sang Hiyang termasuk bagaimana caranya mereka mencari akal supaya
ketujuh gadis itu supaya tidak menjadi korban atau mati tertimpa oleh
pohon besar yang akan dirobohkan. Selanjutnya mereka
menggali parit untuk menyelamatkan ketujuh gadis penggalang itu.
Setelah pekerjaan membuat parit dan ketujuh gadis siap
untuk menggalang pohon yang akan dirobohkan, maka mulailah pohon besar
itu ditebang dan sesungguhnya pohon itu roboh di atas tempat ketujuh
gadis penggalang. Parit yang dibuat tepat di tempat rebahnya pohon besar yang telah ditebang telah menyelamatkan ke tujuh gadis dari maut dan terlindungi di dalam parit yang dibuat.
- “Peristiwa yang diriwayatkan di atas dijadikan awal dari pemberian nama bagi petulai-petulai mereka sesuai dengan pekerjaan rombongan pemimpin masing-masing dalam usaha menebang pohon besar dimana tempat bersemayam beruk putih Benuang Sakti”.
- Petulai Biku Sepanjang Jiwo diberi nama Tubeui atau Tubai, asal kata dari bahasa Rejang “berubeui-ubeui” yang berarti berduyun-duyun.
- Petulai Biku Bermano diberi nama Bermani, asal kata ini dari bahasa Rejang “beram manis” yang berarti tapai manis.
- Petulai Biku Bembo diberi nama jurukalang, asal kata dari bahasa Rejang “kalang” yang berarti galang.
- Petulai Biku Bejenggo diberi nama Selupuei asal kata dari bahasa Rejang “berupeui-uoeui” yang berarti bertumpuk-tumpuk.
Maka
sejak saat itulah Renah Sekalawi bernama Lebong dan tercipta Rejang
Empat petulai yang menjadi Intisari dan asal mula suku bangsa Rejang.
Kesepakatan
yang di bangun setalah prosesi penebangan kayu Benuang Sakti ini semua
rakyat di bawah pimpinan Bikau Sepanjang Jiwo di mana saja mereka
berada di satukan di bawah kesatuan Tubey dan berpusat di Pelabai.
Dengan kembalinya Bikau Sepanjang Jiwo ke Majapahit atau ada yang
berpendapat ke bagian Majapahit Melayu yang berfusat di Pagar Ruyung,
kepemimpinan Bikau ini kemudian di gantikan oleh Rajo Mengat atau Rajo
Mudo Gunung Gedang yang kedatangannya dapat diperkirakan sekitar abad
ke-15.
Baru
setelah kepemimpinan Rajo Mengat ini yang digantikan oleh anaknya
bernama Ki Karang Nio yang memakai gelar Sultan Abdullah akibat
pertambahan jumlah penduduk dan kebutuhan untuk invansi wilayah, maka
anak komunitas ini bertebaran dan membentuk komunitas-komunitas baru
atas kesepakatan besar yang dilakukan di Lebong kemudian Petulai Tubey
ini dipecahkan menjadi Marga Suku IX yang berkedudukan di Kutai Belau
Saten, Marga Suku VIII di Muara Aman dan Merigi untuk pecahan Petulai
Tubey di Luar wilayah Lebong.
Petulai
Selupu tidak pecah dan tetap utuh walaupun anggota-anggotanya
bertebaran ke mana-mana. Menurut riwayat Bikau Pejenggo yang
mengantikan Ajai Malang ini berkedudukan di Batu Lebar di Kesambe yang
merupakan wilayah Rejang, sedangkan Desa Administratif Atas Tebing
include ke dalam wilayah adat Selupu Lebong yang merupakan wilayah desa
yang berbatasan dengan wilayah adat Rejang Pesisir dan Desa Suka Datang
berada dalam wilayah Marga Suku IX secara fisik berbatasan dengan
wilayah Adat Bintunan Rejang Pesisir.
Sistem Kelembagaan Komunal/Adat
Dari
resume yang ditulis di atas dapat diketahui bahwa asal usul suku bangsa
Rejang dari Lebong dan berasal dari empat Petulai yaitu Jurukalang,
Bermani, Selupu dan Tubey. Dari Tulisan Dr Hazairin dalam bukunya De
Redjang yang mengutip tulisan dari Muhammad Husein Petulai di sebut
juga dengan sebutan Mego.
Hal
ini di perkuat juga dengan tulisan orang-orang inggris yang pernah di
Bengkulu Marsden dan Raffles demikian juga dengan orang Belanda Ress dan Swaab menyebut juga perkataan Mego.
Petulai atau Mego ini adalah kesatuan kekeluargaan yang timbul dari sistem unilateral dengan sistem garis keturunan yang patrilinial dan perkawinan yang eksogami,
sekalipun mereka terpencar dimana-mana. Sistem eksogami ini merupakan
syarat mutlah timbulya Petulai/clan sedangkan sistem kekeluargaan yang
patrilineal sangat mempengaruhi sistem kemasyarakatan dan akhirnya
mempengaruhi bentuk kesatuan dan kekuasaan dalam masyarakat.
Pada
zaman Bikau masyarakat di atur atas dasar sistem hukum yang di buat
berdasarkan azas mufakat/musyawarah, keadaan ini melahirkan kesatuan
masyarakat hukum adat yang disebut dengan Kutai yang dikepalai oleh Ketuai Kutai. Kutai ini bersal dari Bahasa dan perkataan Hindu Kuta yang difinisikan sebagai Dusun yang berdiri sendiri,
sehingga pengertian Kutai ini adalah kesatuan masyarakat hukum adat
tunggal yang geneologis dengan pemerintahan yang berdiri sendiri dan
bersifat kekeluargaan.
Pada
Zaman kolonial kemudian sistem kelembagaan dan pemerintahan adat ini
oleh Assisten Residen Belanda J. Walland (1861-1865) kemudian
mengadopsi sistem pemerintahan lokal yang ada di wilayah Palembang
dengan menyebut Kutai atau Petulai ini dengan sebutan Marga yang dikepalai oleh Pesirah. Dengan bergantinya sistem pemerintahan ini Kutai di ganti dengan sebutan Dusun sebagai kesatuan masyarakat hukum adat secara teroterial di bawah kekuasaan seorang Kepala Marga yang bergelar Pesirah. (team
AMARTA: Salim Senawar, Erwin S Basrin, Madian Sapani, Henderi S Basrin,
Sugianto Bahanan, Hadiyanto Kamal, Riza Omami, Bambang Yuroto)
Senin, 13 Februari 2012
Miskin itu pilihan !!!
Semuanya pasti sepakat, kalau miskin itu sangat tidak menyenangkan. Miskin atau kemiskinan merupakan hantu yng sangat ditakuti.
Wajar saja, karena kemiskinan bisa berarti banyak keinginan yang tak
bisa tercapai, selalu kekurangan, apalagi ditambah dengan
keterbelakangan.
Apalagi, pada saat kita miskin kita menderita sakit yang cukup parah, tentu sangat mengenaskan dan tidak enak sama sekali.
Bagaimana tidak? Kalau kita jatuh sakit di saat miskin, alamat tidak
akan mendapatkan layanan yang layak dari RS, bahkan boleh jadi dicuekin.
Pakai kartu gaskin pun terkadang bukan main sulitnya mengurusnya, belum
kalau biaya yang di cover ternyata hanya sedikit sekali dan lainnya,
mesti bayar sendiri.
Jangan sampai juga, kita terjerat kasus hukum sampai di penjara di saat
kita miskin. Karena sudah bukan rahasia lagi, terutama di daerah, masuk
penjara merupakan ekonomi biaya tinggi, dari level atas sampai level
terbawah sekalipun.
Miskin adalah pilihan?
Namun, apakah sebenarnya miskin itu, benarkah menjadi miskin adalah
pilihan? Bukan keharusan yang wajib dijalani oleh seseorang?
Miskin itu pilihan bisa diterjemahkan sebagai kemiskinan hati. Artinya,
meski hanya memiliki rumah kecil, dengan kendaraan mobil yang
pas-pasan, bahkan jauh lebih mahal sebuah unit motor portmerek tertentu,
namun kalau sudah merasa cukup, maka berarti kaya lah dia, karena kaya
hatinya.
Sebaliknya, apabila memiliki rumah mewah, mobil berjejer, dan punya
perusahaan di mana-mana, kalau selalu merasa kekuraangan, maka miskin
lah dia, karena betapa misskinnyaa hatinya.
Biasanya, para koruptor termasuk dalam kategori ini. Karena sudah kaya
namun selalu merasa kekurangan hingga mengambil yang bukan haaknya.
Tapi sebenarnya, tak perlu minder jadi orang miskin, karena banyak
program pemerintah dan swasta yang katanya untuk orang-orang miskin.
Misalnya, sebuah mall besar menggelar bazar besar tengah malam dengan
diskon hingga 50%, maka sah-sah saja kita sebagai orang miskin ikut
berdesak-desakan berebut barang mewah di mall besar itu.
Ada juga SD/SMP favorite yang pendanaannya menguras anggaran negara,
jadi ya oke-oke saja keluarga kita menikmatinya toh kita juga orang
miskin yang harus dibantu negara.
Lalu bagaimana dengan orang-orang pinggiran yang dengan makan sekali
sehari sudah merasa cukup? dengan kuli-kuli di kota-kota besar yang
uangnya dirasa sudah sangat berarti dan merasa cukup untuk hanya sekedar
biaya mudik lebaran?
Dengan petani-petani yang dengan hasil taninya yang tak seberapa sudah
merasa nyaman dengan keadaanya saat ini? Apalagi ditambah membanjirnya
produk pertanian impor seperti bawang, kentang, dan garam, namun mereka
tetap merasa damai, atau dengan para pemulung murni yang merasa sudah
cukuplah hasilnya hari ini dimakan hari ini?
Dan mereka adalah orang-orang kaya sebenarnya negara ini. Apakah hidup
mereka menyenangkan? mungkin lebih menyenangkan daripada kita yang hidup
begitu nyaman namun sesungguhnya kita adalah orang miskin sesungguhnya.
Mungkin juga hidup mereka sangat bahagia karena tak harus sibuk dengan
berjuta keinginan yang semakin hari semakin menyesakkan. Mungkin mereka
lebih bahagia karena tidak harus mengurusi pencitraan, jaga image, jaga
sikap, menjilat sana sini, dan berjuta jaga-jaga yang lain.
Okelah , kadang ada sebagian kita yang terlahir terlanjur kaya, pun
tidak sedikit yang terlahir terlanjur miskin. Namun bisakah kita sedikit
menarik nafas sejenak? usahakan dalam mencapai kekayaan kita
janganlah menjadi sumber kemiskinan orang lain. Atau dalam menjadi
orang miskin jangan menyebabkan sesaknya orang lain.
Tertarik jadi miskin?
Lalu apakah anda tertarik jadi orang miskin? Banyak jalan menuju
kesana, diantaranya dengan membelanjakan uang kita di arena judi, atau
menyuap untuk jadi PNS atau sejenisnya, banyak memiliki kartu kredit
dari berbagai bank, utang modal sana sini, yang berujung pada kredit
macet dan akhirnya bangkrut. Miskinlah anda.
Cara menjadi miskin lainnya adalah, bertanilah.
Profesi ini pasti membuat miskin. Lihatlah mengapa petani dari dulu
menjadi miskin padahal mereka bekerja sangat keras dan menyumbangkan
produk kepada kita agar kita bisa makan nasi.
Ini bukan karena apa tetapi karena memang petani adalah rakyat yang
bisa dipermainkan oleh banyak pihak baik itu pengusaha, pejabat dan
kroni-kroninya. Harga-harga produk pertanian akan dengan mudah
dipermainkan para spekulan dan pejabat pengambil keputusan.
Harga pupuk mahal, saluran irigasi tidak pernah beres, cuaca yang tidak
menentu, begitu panen tiba harga produk anjlok di pasar. Belum lagi
produk impor, dsb. Benar-benar mengenaskan jadi orang kecil.
Penyebab miskin sebenarnya bermacam-macam, diantaranya Hidup di negara
miskin. Saya rasa semua orang akan menjadi miskin jika mereka hidup di
negara yang miskin. Apa itu negara yang miskin? Negara yang miskin
adalah negara yang sumber daya alamnya sangatlah terbatas bahkan tidak
ada sama sekali.
Misalnya hutannya jarang, tanahya tandus, sumber air bersih tidak cukup
(termasuk curah hujan), laut tidak ada (berikut hasil laut), hasil
tambang tidak ada, sumber daya manusia yang bodoh, tanah yang tidak
subur dan gersang, cuaca yang ekstrim, dsb.
Bisa Anda bayangkan tinggal di beberapa negara Afrika yang tandus dan
miskin seperti itu tetapi masih sibuk perang saudara? Sudah miskin
tetapi masih berantem.
Beruntung negara Indonesia kita ini termasuk negara yang kaya raya.
Hasil hutan banyak, cuaca bagus, laut penuh ikan, hasil tambang
berlimpah dan orangnya pintar-pintar. Kalau penduduk lokal tempat
tambang berada itu miskin, lain soal.
Apalagi kalau Masih banyak daerah terpencil yang belum merasakan meratanya kesejahteraan, itu soal nanti.
Angka kemiskinan semu
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis berbagai angka pertumbuhan ekonomi
Indonesia, di antaranya angka kemiskinan yang dicatat turun hingga 0,13
juta orang. Laporan BPS itu seolah memantapkan sederet prestasi
pemerintah, namun diragukan oleh sejumlah pihak, dan BPS dianggap
menyampingkan fakta sosial sebenarnya.
BPS tidak memotret kehidupan rakyat, dan hanya melihat dari sudut pandang ekonomi.
Pada tahun ini Badan Perenacanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
mematok target tingkat kemiskinan tahun 2012 sebesar 10,5%-11,5%.
Komisi XI DPR akan mengarahkan pemerintah agar mengubah garis
kemiskinan yang saat ini ditetapkan setara dengan penghasilan Rp 230.000
per orang dalam sebulan.
Garis kemiskinan tersebut dinilai salah kaprah karena mengabaikan orang
yang berpenghasilan sedikit di atas garis kemiskinan tersebut.
Konon, saking takutnya orang pada miskin, tega melakukan tindakan
korupsi, sikut kanan sikut kiri, mengurangi spesifikasi teknis jembatan
atau jalan yang membahayakan orang lain, dan lainnya. Orang-orang
seperti ini jelas tak punya pilihan karena miskin hatinya..(api)
Apa itu Pertanian ?
Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya
hayati yang
dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan
hidupnya. Kegiatan
pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa difahami
orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam (bahasa Inggris: crop
cultivation) serta pembesaran hewan ternak (raising), meskipun cakupannya dapat pula
berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekedar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan.
Bagian
terbesar penduduk dunia bermata pencaharian dalam bidang-bidang di lingkup
pertanian, namun pertanian hanya menyumbang 4% dari PDB dunia.
Sejarah Indonesia sejak masa kolonial sampai sekarang tidak dapat
dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan, karena sektor - sektor ini
memiliki arti yang sangat penting dalam menentukan pembentukan berbagai
realitas ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Berdasarkan data BPS tahun 2002, bidang pertanian di Indonesia
menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 44,3% penduduk meskipun hanya
menyumbang sekitar 17,3% dari total pendapatan domestik bruto.
Kelompok
ilmu-ilmu pertanian mengkaji pertanian dengan dukungan ilmu-ilmu pendukungnya.
Inti dari ilmu-ilmu pertanian adalah biologi dan ekonomi. Karena pertanian selalu terikat dengan ruang dan waktu,
ilmu-ilmu pendukung, seperti ilmu tanah, meteorologi, permesinan
pertanian, biokimia, dan statistika, juga dipelajari dalam pertanian. Usaha tani (farming)
adalah bagian inti dari pertanian karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang
dilakukan dalam budidaya. Petani adalah sebutan bagi mereka
yang menyelenggarakan usaha tani, sebagai contoh "petani tembakau"
atau "petani ikan". Pelaku budidaya hewan ternak (livestock)
secara khusus disebut sebagai peternak.
Cakupan pertanian
Pertanian
dalam pengertian yang luas mencakup semua kegiatan yang melibatkan pemanfaatan
makhluk hidup (termasuk tanaman, hewan, dan mikrobia) untuk kepentingan manusia. Dalam arti sempit, pertanian
juga diartikan sebagai kegiatan pemanfaatan sebidang lahan untuk membudidayakan jenis tanaman tertentu,
terutama yang bersifat semusim.
Usaha
pertanian diberi nama khusus untuk subjek usaha tani tertentu. Kehutanan adalah
usaha tani dengan subjek tumbuhan (biasanya pohon) dan diusahakan pada lahan yang setengah liar atau liar
(hutan). Peternakan menggunakan
subjek hewan darat kering (khususnya semua vertebrata kecuali ikan dan amfibia) atau serangga (misalnya lebah). Perikanan memiliki subjek hewan perairan (termasuk
amfibia dan semua non-vertebrata air). Suatu usaha pertanian dapat melibatkan
berbagai subjek ini bersama-sama dengan alasan efisiensi dan peningkatan
keuntungan. Pertimbangan akan kelestarian lingkungan mengakibatkan aspek-aspek konservasi sumber daya alam juga menjadi bagian dalam usaha pertanian.
Semua usaha
pertanian pada dasarnya adalah kegiatan ekonomi sehingga memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang
sama akan pengelolaan tempat usaha, pemilihan benih/bibit, metode budidaya, pengumpulan hasil, distribusi produk,
pengolahan dan pengemasan produk, dan pemasaran. Apabila seorang petani memandang semua aspek ini dengan
pertimbangan efisiensi untuk mencapai keuntungan maksimal maka ia melakukan pertanian
intensif (intensive
farming). Usaha pertanian yang dipandang dengan cara ini dikenal sebagai agribisnis. Program dan kebijakan yang mengarahkan usaha pertanian
ke cara pandang demikian dikenal sebagai intensifikasi. Karena pertanian industrial selalu menerapkan pertanian intensif, keduanya
sering kali disamakan.
Sisi pertanian
industrial yang memperhatikan lingkungannya adalah pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Pertanian
berkelanjutan, dikenal juga dengan variasinya seperti pertanian
organik atau permakultur, memasukkan aspek kelestarian daya dukung lahan maupun
lingkungan dan pengetahuan lokal sebagai faktor penting dalam perhitungan
efisiensinya. Akibatnya, pertanian berkelanjutan biasanya memberikan hasil yang
lebih rendah daripada pertanian industrial.
Pertanian
modern masa kini biasanya menerapkan sebagian komponen dari kedua kutub
"ideologi" pertanian yang disebutkan di atas. Selain keduanya,
dikenal pula bentuk pertanian
ekstensif (pertanian
masukan rendah) yang dalam bentuk paling ekstrem dan tradisional akan berbentuk pertanian subsisten, yaitu hanya dilakukan tanpa motif bisnis dan semata
hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri atau komunitasnya.
Sebagai suatu
usaha, pertanian memiliki dua ciri penting: selalu melibatkan barang dalam
volume besar dan proses produksi memiliki risiko yang relatif tinggi. Dua ciri
khas ini muncul karena pertanian melibatkan makhluk hidup dalam satu atau
beberapa tahapnya dan memerlukan ruang untuk kegiatan itu serta jangka waktu
tertentu dalam proses produksi. Beberapa bentuk pertanian modern (misalnya
budidaya alga, hidroponika) telah dapat mengurangi ciri-ciri ini tetapi sebagian
besar usaha pertanian dunia masih tetap demikian.
Sejarah singkat pertanian dunia
Domestikasi anjing diduga telah dilakukan bahkan pada saat manusia
belum mengenal budidaya (masyarakat berburu dan peramu) dan merupakan kegiatan
peternakan yang pertama kali.
Kegiatan
pertanian (budidaya tanaman dan ternak) merupakan salah satu kegiatan yang
paling awal dikenal peradaban manusia dan mengubah total bentuk kebudayaan. Para ahli prasejarah umumnya bersepakat bahwa pertanian
pertama kali berkembang sekitar 12.000 tahun yang lalu dari kebudayaan di
daerah "bulan sabit yang subur" di Timur
Tengah, yang
meliputi daerah lembah Sungai Tigris dan Eufrat terus memanjang ke barat hingga daerah Suriah dan Yordania sekarang. Bukti-bukti yang pertama kali dijumpai
menunjukkan adanya budidaya tanaman biji-bijian (serealia, terutama gandum kuna seperti emmer) dan polong-polongan di daerah tersebut. Pada saat itu, 2000 tahun
setelah berakhirnya Zaman Es terakhir di era Pleistosen, di dearah ini banyak dijumpai hutan dan padang yang
sangat cocok bagi mulainya pertanian. Pertanian telah dikenal oleh masyarakat
yang telah mencapai kebudayaan batu muda (neolitikum), perunggu dan megalitikum. Pertanian mengubah bentuk-bentuk kepercayaan, dari
pemujaan terhadap dewa-dewa perburuan menjadi pemujaan terhadap dewa-dewa
perlambang kesuburan dan ketersediaan pangan.
Teknik
budidaya tanaman lalu meluas ke barat (Eropa dan Afrika
Utara, pada saat
itu Sahara belum sepenuhnya menjadi gurun) dan ke timur (hingga Asia Timur dan Asia Tenggara). Bukti-bukti di Tiongkok menunjukkan adanya budidaya jewawut (millet) dan padi sejak 6000 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Asia
Tenggara telah mengenal budidaya padi sawahpaling tidak pada saat 3000 tahun SM dan Jepang serta Korea sejak 1000 tahun SM. Sementara itu, masyarakat
benua Amerika mengembangkan tanaman dan hewan budidaya yang sejak awal sama
sekali berbeda.
Hewan ternak
yang pertama kali didomestikasi adalah kambing/domba (7000 tahun SM) serta babi (6000 tahun SM), bersama-sama dengan domestikasi kucing. Sapi, kuda, kerbau,yak mulai dikembangkan antara 6000 hingga 3000 tahun
SM. Unggas mulai dibudidayakan lebih kemudian. Ulat sutera diketahui
telah diternakkan 2000 tahun SM. Budidaya ikan air tawar baru dikenal semenjak
2000 tahun yang lalu di daerah Tiongkok dan Jepang. Budidaya ikan laut bahkan
baru dikenal manusia pada abad ke-20 ini.
Kubis
Kubis
Dari ensiklopedia bebas
Kubis
|
Kelompok Capitata
|
Tanah asal
|
Anggota kelompok kultivar
|
Lihat teks
|
Kubis, kol, kobis, atau kobis bulat adalah nama yang diberikan
untuk tumbuhan sayuran daun yang populer. Tumbuhan dengan nama ilmiahBrassica
oleracea L. Kelompok Capitata ini dimanfaatkan daunnya untuk dimakan. Daun ini
tersusun sangat rapat membentuk bulatan atau bulatan pipih, yang disebut krop, kop atau kepala (capitata berarti
"berkepala"). Kubis berasal dari Eropa Selatan dan Eropa Barat dan,
walaupun tidak ada bukti tertulis atau peninggalan arkeologi yang kuat,
dianggap sebagai hasilpemuliaan terhadap kubis liar B. oleracea var. sylvestris.
Nama "kubis"
diambil dari bahasa
Perancis, chou cabus (harafiah berarti
"kubis kepala"), yang diperkenalkan oleh sebagian orang Eropa yang
tinggal di Hindia-Belanda[rujukan?]. Nama "kol"
diambil dari bahasa
Belanda kool.
Pertumbuhan
Kubis memiliki ciri khas
membentuk krop. Pertumbuhan awal ditandai dengan pembentukan daun secara
normal. Namun semakin dewasa daun-daunnya mulai melengkung ke atas hingga
akhirnya tumbuh sangat rapat. Pada kondisi ini petani biasanya menutup krop
dengan daun-daun di bawahnya supaya warna krop makin pucat. Apabila ukuran krop
telah mencukupi maka siap kubis siap dipanen. Dalam budidaya, kubis adalah
komoditi semusim. Secara biologi, tumbuhan
ini adalah dwimusim (biennial) dan
memerlukan vernalisasi untuk pembungaan. Apabila tidak mendapat
suhu dingin, tumbuhan ini akan terus tumbuh tanpa berbunga. Setelah berbunga,
tumbuhan mati.
Macam-macam
kubis
Warna sayuran ini yang umum
adalah hijau sangat pucat sehingga disebut forma alba ("putih"). Namun
demikian terdapat pula kubis dengan warna hijau (forma viridis) dan ungu kemerahan (forma rubra). Dari bentuk kropnya
dikenal ada dua macam kubis: kol bulat dan kol gepeng (bulat agak pipih).
Perdagangan komoditi kubis di Indonesia membedakan dua bentuk ini.
Terdapat jenis agak khas
dari kubis, yang dikenal sebagai Kelompok Sabauda, yang dalam perdagangan
dikenal sebagai kubis Savoy. Kelompok ini juga dapat dimasukkan dalam Capitata.
Budidaya
Kubis menyukai tanah yang
sarang dan tidak becek. Meskipun relatif tahan terhadap suhu tinggi, produk
kubis ditanam di daerah pegunungan (400m dpl ke atas) di daerah tropik. Di
dataran rendah, ukuran krop mengecil dan tanaman sangat rentan terhadap ulat pemakan
daun Plutella.
Karena penampilan kubis
menentukan harga jual, kerap dijumpai petani (Indonesia) melakukan penyemprotan
tanaman dengan insektisidadalam jumlah berlebihan
agar kubis tidak berlubang-lubang akibat dimakan ulat. Konsumen perlu
memperhatikan hal ini dan disarankan selalu mencuci kubis yang baru dibeli.
Kandungan
gizi dan manfaat
Kubis segar mengandung
banyak vitamin (A, beberapa B, C, dan E). Kandungan Vitamin
C cukup tinggi untuk mencegah skorbut (sariawan akut). Mineral
yang banyak dikandung adalah kalium, kalsium, fosfor, natrium, dan besi. Kubis segar juga
mengandung sejumlah senyawa yang merangsang pembentukan glutation, zat yang diperlukan untuk
menonaktifkan zat beracun dalam tubuh manusia.
Antigizi
Sebagaimana suku
kubis-kubisan lain, kubis mengandung sejumlah senyawa yang dapat merangsang
pembentukan gas dalam lambung sehingga menimbulkan rasa kembung (zat-zat
goiterogen). Daun kubis juga mengandung kelompok glukosinolat yang menyebabkan rasa agak
pahit.
Pengolahan
Kubis dapat dimakan segar
sebagai lalapan maupun diolah. Sebagai
lalapan, kubis yang dilengkapi sambal biasa meyertai menu
gorengan atau bakar seperti ayam atau lele. Kubis diolah untuk
membuat orak-arik atau capcay. Daun kubis yang direbus
menjadi lunak, tipis, dan transparan. Perebusan ini dapat dijumpi dalam
berbagai sup dan sayur. Di Korea kubis menjadi komponen
utama masakan khas bangsa ini:kimchi. Jerman terkenal dengan sauerkraut, kubis yang
dipotong-potong kecil dan diawetkan dalam cuka.
Langganan:
Postingan (Atom)

